Key Takeaways:
- Penyakit patek disebabkan oleh infeksi jamur Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides yang menyebar masif saat kelembapan tinggi dan musim hujan.
- Gejala khas berupa bercak cekung melingkar konsentris warna coklat kehitaman pada dinding buah cabai yang berkembang menjadi busuk kering.
- Pengendalian paling efektif memadukan sanitasi fisik (petik buah sakit), jarak tanam minimal 50 cm, perkuatan dinding sel dengan Kalsium-Boron, dan stimulasi imunitas sistemik tanaman.
Bagi petani cabai di seluruh Indonesia, tidak ada pemandangan yang lebih menyakitkan daripada melihat buah cabai yang siap petik tiba-tiba dipenuhi bercak hitam melingkar seperti terbakar sulutan rokok. Dalam hitungan 3 sampai 5 hari, cabai merah merekah tersebut membusuk, layu kering, dan berguguran massal ke tanah.
Penyakit ini dikenal luas dengan nama Antraknosa atau Patek. Di musim hujan, serangan antraknosa yang tidak tertangani dengan benar bisa melenyapkan 50% hingga 90% potensi tonase panen kebun cabai.
1. Biologi Penyebaran Cendawan Colletotrichum
Antraknosa disebabkan oleh cendawan dari genus Colletotrichum. Jamur ini menghasilkan jutaan spora mikroskopis (konidia) yang memiliki lapisan perekat lendir.
Spora ini menyebar melalui 3 jalur utama:
- Percikan Air Hujan (Rain Splash): Tetesan air hujan yang jatuh ke tanah memantul ke daun dan buah bawah, membawa serta spora jamur yang tertidur di tanah.
- Angin Kencang: Menerbangkan spora kering ke tanaman tetangga dalam satu hamparan bedengan.
- Alat Tani dan Pakaian Pekerja: Spora menempel pada tangan atau gunting panen yang berpindah dari tanaman sakit ke tanaman sehat.
Setelah menempel di dinding buah, spora membutuhkan waktu hanya 6 hingga 8 jam dalam kondisi basah untuk membentuk apresorium dan menembus lapisan kutikula buah cabai.
2. Gejala Awal yang Wajib Diwaspadai
- Bercak Cekung Melingkar: Muncul bercak kecil kebasah-basahan pada kulit buah cabai yang kemudian melebar membentuk lingkaran-lingkaran konsentris (bullseye pattern).
- Bintik Hitam Spora (Aservulus): Di tengah lingkaran muncul bintik-bintik hitam mikroskopis yang saat udara lembap akan mengeluarkan massa lendir berwarna merah muda/oranye.
- Buah Keriput Mengering: Daging buah membusuk dari luar ke dalam, mengering menyerupai jerami, dan buah rontok sebelum matang.
Fase Serangan Patek:
Percikan Air Hujan ───► Spora Menempel di Buah ───► Penetrasi Kutikula ───► Bercak Lingkaran Cekung ───► Busuk Kering Meluas
3. Protokol Terpadu Pengendalian Patek di Lahan
Membasmi patek tidak bisa hanya mengandalkan penyemprotan racun kimia setelah buah terlanjur busuk. Diperlukan protokol pencegahan terintegrasi:
A. Sanitasi Lahan & Jarak Tanam
- Pembersihan Rutin (Eradikasi): Petik segera buah cabai yang menunjukkan gejala patek sekecil apa pun. Masukkan ke dalam kantong plastik tertutup, bawa keluar dari kebun, lalu kubur sedalam 50 cm atau bakar. Jangan sekali-kali membuang buah busuk di parit kebun!
- Pengaturan Sirkulasi Udara: Gunakan jarak tanam minimal 50 x 60 cm dengan sistem tanam segitiga (zig-zag). Pangkas daun-daun tua di bawah cabang Y untuk melancarkan sirkulasi angin di bawah kanopi.
B. Penguatan Fisik Dinding Buah (Kalsium + Boron)
Kulit buah cabai yang tebal dan liat sulit ditembus hifa jamur. Semprotkan nutrisi kalsium larut air yang dipadukan dengan Boron sejak awal fase pembungaan. Kalsium membentuk senyawa kalsium pektat yang merekatkan dinding sel buah, bertindak sebagai perisai mekanis alami.
C. Proteksi Biologi & Imunitas Tanaman
- Gunakan mulsa plastik perak untuk mencegah percikan tanah basah memantul ke buah bawah.
- Semprotkan biostimulan aktivator imun secara rutin tiap 5–7 hari di musim hujan untuk memicu produksi fitoaleksin pelindung alami di seluruh permukaan buah cabai.
Kapan Harus Berkonsultasi?
Bila gejala terus meluas atau respon tanaman tidak membaik setelah tindakan pertama, segera tanyakan langsung ke tim agronomi untuk konfirmasi diagnosis lapangan.
Pengendalian Antraknosa (Patek Cabai): Protokol Terpadu Mencegah Busuk Buah Melingkar
Tanya Tim Agronomi via WhatsAppDaftar Pustaka (3)
[Tampilkan]
- Diao Y, Zhang C, Liu F, Wang W, Liu L, Cai L, Liu X (2017). Colletotrichum species causing anthracnose disease of chili in China. Persoonia.
- Sutomo R, Subandiyah S, Wibowo A, Widiastuti A (2022). Description and Pathogenicity of Colletotrichum Species Causing Chili Anthracnose in Yogyakarta, Indonesia. AGRIVITA Journal of Agricultural Science.
- Dean R, Van Kan JAL, Pretorius ZA, Hammond-Kosack KE, et al. (2012). The Top 10 fungal pathogens in molecular plant pathology. Molecular Plant Pathology.
Tentang Penulis
Pengungkapan: Artikel ini ditulis oleh Prof. Arif Prabowo sebagai moderator Jurnal Tani, portal edukasi PT Agritani Internasional, distributor produk nutrisi dan aktivator tanaman.