Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Pengendalian Gulma Teki-tekian Cyperus rotundus di Sawah

Cara membasmi gulma teki-tekian (Cyperus rotundus) pada padi sawah: kelemahan umbi teki di dalam tanah, pengaturan genangan air, dan herbisida selektif.

Oleh Arif PrabowoTerbit 3 menit bacapadi
Ilustrasi padi: Pengendalian Gulma Teki-tekian Cyperus rotundus di Sawah
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.

Di lahan persawahan padi (Oryza sativa), terutama di sawah tadah hujan atau sawah irigasi yang pasokan airnya sering macet mengering, keberadaan gulma golongan teki-tekian—terutama Teki Ladang (Cyperus rotundus) dan teki rawa (Cyperus difformis)—adalah salah satu kompetitor paling ganas yang mencuri hara pupuk dan air dari perakaran padi. Batang teki yang segitiga pejal dengan helai daun mengilap berlilin tumbuh melesat jauh lebih cepat dibanding anakan padi muda.

Gulma teki memancarkan zat racun alelopati ke dalam tanah yang meracuni perakaran padi, membuat anakan padi kerdil menguning, dan menurunkan hasil panen gabah hingga 30 hingga 50 persen. Upaya mencabut rumput teki secara manual menggunakan tangan sering kali sia-sia: batang teki mudah putus di pangkal lehernya, sementara umbi penyimpanannya tetap tertinggal aman di dalam tanah dan bertunas kembali menjadi 3 rumpun teki baru dalam tempo beberapa hari.

1. Anatomi dan Ketahanan Umbi Rantai Cyperus rotundus

Memahami mengapa rumput teki dijuluki sebagai ‘gulma paling abadi di dunia’:

  1. Jaringan Rantai Umbi di Bawah Tanah (Tuber Chains): Rumput teki tidak hanya mengandalkan butir biji halus untuk menyebar, melainkan membentuk jaringan rimpang mendatar di dalam tanah yang menghasilkan rantai umbi bertingkat-tingkat (tuber). Satu rumpun teki mampu menghasilkan puluhan umbi bawah tanah hingga kedalaman 20 sampai 30 sentimeter.
  2. Dormansi Umbi Bertahun-tahun: Umbi teki dilapisi kulit gabus liat yang kedap air dan kaya cadangan karbohidrat pati. Umbi ini sanggup tidur dorman di dalam tanah kering tandus selama bertahun-tahun, dan baru akan terbangun saat tanah diolah dan terkena kelembapan air.
  3. Senyawa Alelopati Penghambat Tunas Padi: Akar dan umbi teki menyekresikan senyawa metabolit sekunder beracun (seperti seskuiterpenoid dan asam fenolat) ke rizosfer sekitarnya. Senyawa ini menghambat pembelahan sel akar tanaman padi di dekatnya, memicu gejala kerdil merana pada rumpun padi muda.

2. Pengendalian Ekologis: Kelemahan Teki Terhadap Genangan Air

Meskipun tangguh di lahan kering, teki Cyperus rotundus memiliki kelemahan fisiologis mutlak terhadap kondisi kedap udara air:

  • Teki Bukan Tanaman Air Sejati: Cyperus rotundus adalah tanaman darat sejati yang membutuhkan pasokan oksigen bebas di sekitar leher akarnya untuk bernapas.
  • Penggenangan Air Sawah (Flooding): Setelah bibit padi ditanam (umur 7 hingga 14 HST), genangi petak sawah dengan air setinggi 5 hingga 7 sentimeter secara terus-menerus selama minimal 10 sampai 14 hari. Genangan air yang stabil memutus suplai oksigen ke lapisan atas tanah, melumpuhkan perkecambahan umbi teki, dan membusukkan tunas-tunas muda teki yang baru mencoba keluar dari lumpur sawah.
  • Pastikan pematang sawah tidak bocor agar permukaan tanah tidak mengalami ‘macak-macak’ mengering yang menjadi pemicu meledaknya pertumbuhan teki.

3. Aplikasi Herbisida Kimiawi Selektif Purna Tumbuh

Bila rumput teki telah tumbuh lebat menembus sela-sela rumpun padi sawah:

  • Herbisida Selektif Berbahan Aktif Pirazosulfuron-Etil atau Bensulfuron-Metil: Golongan herbisida sulfonilurea ini bekerja secara sistemik sangat selektif: mematikan gulma teki dan gulma berdaun lebar hingga ke umbi akarnya tanpa merusak atau meracuni tanaman padi sawah sedikit pun. Semprotkan pada umur 10 hingga 15 HST dengan dosis 80 hingga 100 gram per hektare.
  • Herbisida Berbahan Aktif 2,4-D Dimetil Amina: Untuk mengendalikan teki yang sudah berdaun lebar dan berumbi besar pada umur 20-25 HST, gunakan herbisida hormonal 2,4-D dengan dosis 1,5 hingga 2 mililiter per liter air (sekitar 25 hingga 30 ml per tangki 16 liter). Bahan aktif ini merusak pembelahan sel meristem teki, membuat batang teki terpelintir bengkok (epinasti), menguning layu, dan umbi bawah tanahnya membusuk hancur dalam tempo 5 sampai 7 hari pasca semprot.

Langkah berikutnya di lahan

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk untuk padi

Produk lain: AussieBENSU

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.