Bagi petani padi sawah (Oryza sativa), hama penggerek batang padi—terutama Penggerek Batang Padi Kuning (PBPK / Scirpophaga incertulas)—adalah musuh tersembunyi yang serangannya melintasi dua fase pertumbuhan utama tanaman padi dengan nama gejala yang berbeda: Sundep pada fase vegetatif dan Beluk pada fase generatif. Pada fase anakan aktif, larva ulat mengebor masuk ke dalam pangkal batang padi dan memotong pembuluh vaskular titik tumbuh, menyebabkan pucuk daun tengah menggulung layu mengering kecokelatan dan mudah dicabut lepas (sundep).
Kerusakan paling menyakitkan terjadi saat fase pengisian malai: ulat yang memakan empulur batang menyebabkan malai padi yang baru keluar tegak lurus kaku berwarna putih hampa tanpa butir gabah (beluk). Tandan malai beluk sangat ringan, mudah dicabut dari batangnya dengan pangkal tangkai malai berbekas gigitan ulat kecokelatan, menimbulkan kehilangan hasil gabah kering panen mencapai 30 hingga 70 persen.
1. Daur Hidup Ngengat Kaper dan Peneluran di Persemaian
Memahami di mana telur diletakkan adalah rahasia utama menghentikan siklus hama sejak dini:
- Ngengat Kaper Putih Bersifat Nokturnal: Ngengat dewasa betina berukuran sayap sekitar 2 sentimeter berwarna kuning jerami atau putih gading dengan satu titik hitam khas di tengah sayap depannya. Ngengat ini aktif terbang mencari pasangan pada malam hari dan sangat tertarik pada cahaya lampu (fototaksis positif).
- Kelompok Telur Berbulu di Ujung Daun: Ngengat betina meletakkan kelompok telur berisi 50 hingga 150 butir telur berbentuk cakram oval tepat di permukaan atas helai daun padi, terutama pada bagian ujung sepertiga daun padi muda. Telur diselimuti lapisan bulu-bulu halus berwarna cokelat kekuningan yang berasal dari bulu pantat ngengat betina sebagai pelindung dari terpaan air hujan dan serangan semut.
- Penyebaran Larva Melayang Sutra: Telur menetas dalam tempo 5 sampai 7 hari. Larva ulat instar pertama mengeluarkan benang sutra liat dan bergelantungan tertiup hembusan angin kebun untuk menyebar ke batang-batang padi di sekitarnya sebelum mengebor masuk ke dalam pelepah batang.
2. Tiga Langkah Pengendalian Preventif di Persemaian dan Sawah
Tindakan fisik di awal tanam terbukti mampu memotong populasi penggerek batang hingga 80 persen:
- Pemotongan Ujung Daun Bibit Sebelum Tanam (Clipping): Saat bibit padi di persemaian basah berumur 18 hingga 20 hari dan siap dipindahkan ke sawah, lakukan pemotongan ujung helai daun bibit sepanjang 3 hingga 5 sentimeter menggunakan arit atau gunting tajam. Tindakan sederhana ini membuang lebih dari 90 persen kelompok telur ngengat kaper yang menempel di ujung daun, sehingga sawah bersih dari penetrasi larva ulat generasi pertama.
- Pemasangan Perangkap Lampu Tenaga Surya (Light Trap): Pasang light trap bertenaga surya di pematang sawah sejak masa pengolahan tanah hingga fase vegetatif awal. Satu unit light trap sanggup menangkap ribuan ngengat kaper dewasa betina setiap malam sebelum sempat bertelur di pertanaman padi.
- Pelepasan Tawon Parasitoid Telur Trichogramma japonicum: Pasang pias-pias parasitoid Trichogramma sebanyak 20 hingga 40 pias per hektare seminggu setelah pindah tanam. Tawon mikro ini menyuntikkan telurnya ke dalam kelompok telur penggerek batang, mematikan embrio ulat di dalam cangkang telur secara alami.
3. Aplikasi Insektisida Sistemik Granul dan Semprot Tepat Waktu
Jika intensitas serangan sundep di lapangan telah melampaui ambang batas ekonomi (lebih dari 10 persen anakan terserang sundep):
- Aplikasi Insektisida Sistemik Butiran (Granul) pada Fase Vegetatif: Taburkan insektisida butiran berbahan aktif Karbofuran atau Fipronil 0,3 GR dengan dosis 15 hingga 20 kilogram per hektare bersamaan dengan pemupukan susulan pertama (umur 10-14 HST). Butiran insektisida yang larut di air sawah diserap oleh perakaran padi dan dialirkan ke seluruh dinding batang, membunuh ulat penggerek yang sedang mengebor empulur.
- Penyemprotan Sistemik Menjelang Fase Bunting (Umur 40-45 HST): Ini adalah batas waktu terakhir untuk mencegah timbulnya malai beluk putih. Semprotkan insektisida sistemik translaminar berbahan aktif Dimehipo, Kartap Hidroklorida, atau Klorantraniliprol dengan dosis 2 ml per liter air tepat sebelum malai padi keluar dari seludang bunting. Larutan racun meresap ke dalam jaringan pembuluh batang, memastikan tangkai malai aman dari gigitan larva ulat saat malai menyembul mekar.



