Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Peranan Gas Etilen: Mengatur Pematangan Buah dan Rontok Daun

Pelajari fungsi gas etilen C2H4 dalam pematangan buah klimakterik, pembentukan zona absisi kerontokan, serta cara pengelolaannya pasca panen.

Oleh Arif PrabowoTerbit 4 menit baca
Ilustrasi sains tanaman: Peranan Gas Etilen: Mengatur Pematangan Buah dan Rontok Daun
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.
Catatan Lapangan

Inti Sari Pembahasan (Key Takeaways)

  1. Etilen (C2H4) adalah satu-satunya fitohormon alami tumbuhan yang berwujud gas pada temperatur ruang.
  2. Gas etilen mengendalikan pematangan buah, perombakan klorofil, hidrolisis pati menjadi gula, dan pelunakan dinding sel buah.
  3. Pengelolaan etilen yang tepat menjadi faktor penentu untuk memperpanjang masa simpan buah pasca panen dan mencegah kerontokan bunga prematur.

Menyimpan sebutir pisang matang di dalam wadah beras atau kardus tertutup bersama buah alpukat mentah yang masih keras adalah praktik pemeraman tradisional yang terbukti efektif di lapangan. Hanya dalam tempo dua hari, buah alpukat tersebut matang sempurna, bertekstur lembut, dan siap dikonsumsi.

Reaksi percepatan pematangan buah ini bukanlah sihir, melainkan buah karya satu-satunya hormon tumbuhan yang berwujud gas di alam: Gas Etilen (C2H4C_2H_4).

Di dunia agrikultur modern, etilen memiliki peranan ganda. Di satu sisi, gas ini mengatur rasa manis dan kelembutan buah siap konsumsi. Di sisi lain, akumulasi etilen yang tidak terkendali di kebun maupun di gudang penyimpanan dapat memicu kerontokan bunga prematur, penguningan daun secara cepat, dan kebusukan dini komoditas pasca panen.

1. Bagaimana Gas Etilen Mematangkan Buah?

Proses pematangan buah yang dipicu oleh lonjakan gas etilen melibatkan perombakan biokimiawi seluler yang dramatis:

  1. Perombakan Klorofil Hijau Menjadi Pigmen Menarik: Gas etilen merangsang sintesis enzim klorofilase yang menguraikan pigmen hijau klorofil pada kulit buah, sekaligus mengaktifkan pembentukan pigmen karotenoid (kuning/oranye) dan antosianin (merah/ungu).
  2. Pelunakan Dinding Sel Buah: Etilen mengaktifkan enzim pektinase dan selulase yang mencerna pektin perekat antarsel. Daging buah yang tadinya keras padat perlahan melunak dan menjadi kenyal lembut.
  3. Konversi Pati Menjadi Gula Manis: Enzim amilase diaktifkan untuk memecah simpanan karbohidrat pati tawar menjadi molekul gula sederhana (glukosa dan fruktosa), menghasilkan cita rasa buah yang manis beraroma harum.

2. Perbedaan Buah Klimakterik vs Non-Klimakterik

Petani dan pedagang buah wajib membedakan dua kelompok buah berdasarkan perilakunya terhadap gas etilen:

  • Buah Klimakterik: Kelompok buah yang mengalami lonjakan produksi gas etilen dan laju respirasi secara tajam menjelang matang. Buah ini bisa dipetik saat tua mentah dan akan matang sempurna setelah diperam. Contohnya: pisang, mangga, pepaya, alpukat, tomat, dan durian.
  • Buah Non-Klimakterik: Buah yang tidak mengalami lonjakan etilen dan laju respirasinya terus menurun setelah dipetik. Buah ini wajib dipetik matang di pohon karena tidak akan bertambah manis jika diperam di gudang. Contohnya: jeruk, semangka, melon, nanas, stroberi, dan anggur.

3. Peran Etilen dalam Pengguguran Daun dan Bunga (Absisi)

Selain mematangkan buah, etilen adalah dalang di balik proses pengguguran daun tua, kelopak bunga, dan buah muda:

  • Pembentukan Lapisan Absisi (Abscission Zone): Di pangkal tangkai daun atau tangkai buah terdapat lapisan sel khusus yang tipis. Ketika pasokan hormon auksin dari ujung tunas menurun (misalnya saat tanaman mengalami stres air atau kekurangan nutrisi boron), produksi etilen lokal meningkat.
  • Pemutusan Tangkai: Etilen merangsang sel-sel di lapisan absisi untuk melisiskan dinding selnya sendiri, membuat tangkai rapuh dan akhirnya patah terlepas akibat hembusan angin sepoi-sepoi.

4. Manajemen Praktis Etilen di Gudang dan Pasca Panen

  • Sirkulasi Udara dan Pengendalian Suhu Dingin: Untuk memperpanjang masa simpan buah klimakterik agar tidak cepat busuk di perjalanan, simpan buah pada temperatur sejuk (12–15 derajat Celsius) dan pastikan ventilasi gudang lancar agar konsentrasi gas etilen tidak menumpuk di dalam ruangan.
  • Gunakan Zat Penyerap Etilen (Ethylene Scavenger): Masukkan sachet berisi kalium permanganat (KMnO4KMnO_4) ke dalam kotak kardus pengemasan buah ekspor. Kalium permanganat akan mengoksidasi gas etilen menjadi gas karbon dioksida dan air, menonaktifkan efek pematangannya selama pengiriman antar pulau.

5. FAQ Petani dan Pedagang Komoditas Buah

Bolehkah gas karbit (kalsium karbida) digunakan untuk memeram buah?
Meskipun kalsium karbida (CaC2CaC_2) bereaksi dengan kelembapan udara menghasilkan gas asetilena yang memiliki struktur mirip etilen, penggunaan karbit kini semakin ditinggalkan karena sering meninggalkan residu logam berat arsenik dan fosfor yang berbahaya bagi kesehatan. Alternatif yang jauh lebih aman adalah menggunakan etilen cair (ethephon) food-grade atau menggunakan daun pisang segar dan buah apel matang sebagai pemicu pematangan alami di dalam wadah peram.

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk Agritani

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.