Bagi petani cengkeh (Syzygium aromaticum) di sentra perkebunan lereng pegunungan Maluku, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera, penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh atau BPKC—yang dikenal secara turun-temurun dengan sebutan penyakit Mati Bujang—adalah momok kehancuran yang paling ditakuti. Pohon cengkeh produktif yang sudah berumur puluhan tahun dan berkanopi rimbun lebat dapat meranggas kering dan mati total hanya dalam waktu beberapa bulan setelah gejala awal terlihat. Ranting-ranting pucuk mengering gundul dari atas ke bawah, daun layu kecokelatan tetap menggantung kaku di dahan, dan produksi bunga cengkeh amblas seratus persen.
Penyakit mematikan ini disebabkan oleh infeksi bakteri patogen vaskular Ralstonia syzygii yang menyerang dan menyumbat pembuluh kayu xilem dari dalam batang utama.
1. Karakteristik Serangan dan Cara Penularan Bakteri BPKC
Bakteri Ralstonia syzygii memiliki spesifisitas tinggi dalam menghancurkan sistem sirkulasi air tanaman cengkeh:
- Penyumbatan Pembuluh Kayu Xilem: Bakteri memperbanyak diri di dalam tabung pembuluh xilem dan mengeluarkan lendir polisakarida ekstra seluler (EPS) yang kental. Lendir bakteri ini menyumbat saluran pengangkut air dari akar menuju tajuk daun. Akibatnya, daun-daun pucuk di puncak pohon mengalami dehidrasi akut layaknya kekeringan ekstrem, memicu gejala mati pucuk (dieback).
- Vektor Serangga Kepik Pengisap (Hindola spp.): Bakteri BPKC ditularkan dari pohon cengkeh sakit ke pohon sehat oleh serangga vektor berukuran kecil dari famili Machaerotidae, yaitu Hindola fulva dan Hindola striata. Nimfa serangga ini hidup di dalam busa cairan ludah di pucuk ranting cengkeh dan mengisap cairan pembuluh kayu sambil menginokulasikan bakteri patogen.
- Penyebaran Melalui Alat Pangkas dan Luka Akar: Pemangkasan ranting menggunakan gunting atau golok yang tercemar getah pohon sakit, serta perlukaan akar akibat cangkul saat membersihkan piringan pohon, menjadi gerbang masuk sekunder bagi koloni bakteri.
2. Diagnosis Lapangan: Membedakan BPKC dan Cekaman Kekeringan
Petani dapat memastikan infeksi bakteri BPKC dengan pengujian sederhana di kebun:
- Kupas kulit kayu cabang atau batang pohon cengkeh yang sedang layu meranggas. Pada pohon yang terinfeksi BPKC, lapisan kayu bagian luar menunjukkan garis-garis corengan memanjang berwarna cokelat tua atau merah keunguan (vascular browning).
- Potong ranting sakit sepanjang 5 sentimeter, lalu celupkan ujung potongan ranting ke dalam gelas bening berisi air bersih selama 5 menit. Bila pohon positif terjangkit bakteri BPKC, akan tampak kabut benang putih asap halus (bacterial ooze) yang meleleh keluar perlahan dari pori-pori pembuluh kayu ke dalam air.
3. Protokol Penyelamatan dan Injeksi Batang Pohon Cengkeh
Karena bakteri bersembunyi di dalam teras kayu pembuluh xilem tertutup, penyemprotan daun tidak akan mampu menjangkau patogen. Pengendalian harus dilakukan melalui tindakan sistemik internal:
- Metode Infus / Injeksi Batang (Trunk Injection): Pada pohon cengkeh yang baru menunjukkan gejala awal layu pucuk (kematian ranting kurang dari 30%), lakukan pengeboran batang sedalam 3 hingga 5 sentimeter dengan kemiringan 45 derajat ke bawah. Masukkan jarum infus khusus dan alirkan larutan antibiotik bakterisida sistemik berbahan aktif Oksitetrasiklin (oxytetracycline hydrochloride) atau Kasugamisin dengan dosis 1,5 hingga 2 gram per pohon yang dilarutkan dalam 100 ml air steril. Bakteriostatik ini akan diserap oleh aliran xilem dan menghentikan replikasi bakteri di tajuk pohon.
- Pengendalian Vektor Serangga Hindola: Semprotkan insektisida sistemik berbahan aktif tiametoksam atau asetamiprid pada ranting pohon penaung dan pucuk pohon cengkeh muda di awal musim kemarau untuk membasmi populasi nimfa vektor Hindola.
- Eradikasi Pohon Sakit Parah: Pohon cengkeh tua yang daunnya sudah rontok lebih dari 70 persen harus ditebang habis dan dibongkar perakarannya, lalu dibakar di tempat agar tidak menjadi sarang penularan bagi pohon-pohon sehat di sekitarnya.


