Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Pengendalian Penyakit Akar Gada Plasmodiophora pada Kubis

Penyebab penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae) pada kubis dan sawi: pembengkakan akar, strategi pengapuran dolomit tanah masam, dan sanitasi bibit.

Oleh Arif PrabowoTerbit 4 menit bacakubis
Ilustrasi kubis: Pengendalian Penyakit Akar Gada Plasmodiophora pada Kubis
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.

Bagi petani sayuran famili kubis-kubisan (Brassicaceae) di daerah pegunungan dingin—seperti kubis kol bulat (Brassica oleracea), kembang kol, brokoli, dan sawi putih—penyakit Akar Gada atau Clubroot yang dipicu oleh patogen protista tanah obligat Plasmodiophora brassicae adalah momok yang melumpuhkan lahan budidaya. Tanaman kubis yang terjangkit menunjukkan gejala kelayuan yang sangat khas: pada siang hari saat terik matahari memancar panas, seluruh daun kubis terkulai layu lemas layaknya tanaman kekeringan air, namun saat fajar pagi tiba helai daun tampak kembali segar tegak (layu semu / flagging).

Dalam beberapa minggu, tanaman kubis berhenti bertumbuh menjadi kerdil membantat, krop kol bulat gagal terbentuk atau berukuran kerdil seukuran bola tenis, dan tanaman mati mengering. Ketika tanaman dicabut dari tanah, perakarannya tidak lagi berupa serabut halus sehat, melainkan telah membengkak membesar membentuk tonjolan-tonjolan daging keras tak beraturan menyerupai gada, gada pemukul, atau jari-jari buntung yang membusuk berbau busuk menusuk hidung.

1. Bioekologi Infeksi dan Daya Bertahan Spora Istirahat

Patogen Plasmodiophora brassicae memiliki adaptasi bertahan hidup yang luar biasa di tanah masam:

  1. Spora Istirahat Abadi (Resting Spores): Ketika akar gada yang membusuk hancur di dalam tanah, patogen melepaskan miliaran spora istirahat mikroskopis berkulit tebal. Spora ini sanggup bertahan hidup dalam kondisi tanah beku atau kering tandus selama 15 hingga 20 tahun tanpa kehadiran tanaman inang.
  2. Zoospora Berenang Menembus Rambut Akar: Saat kelembapan tanah tinggi dan ada tanaman kubis ditanam, spora istirahat berkecambah melepaskan zoospora berambut cambuk kembar yang berenang di dalam lapisan film air tanah menuju rambut akar tanaman kubis.
  3. Hipertrofi dan Hiperplasia Seluler: Setelah masuk ke dalam sel korteks akar, patogen membajak hormon auksin dan sitokinin tanaman. Sel-sel akar dirangsang untuk membelah secara liar tak terkendali (hiperplasia) dan membesar secara abnormal (hipertrofi). Pembengkakan raksasa ini menghancurkan susunan pembuluh kayu xilem dan floem, memblokir pengangkutan air dan hara ke tajuk daun atas.

2. Mengapa Lahan Pegunungan Sangat Rentan Akar Gada?

Perkembangan spora akar gada sangat dipengaruhi oleh parameter keasaman tanah:

  • Katalisator Tanah Masam: Spora Plasmodiophora brassicae berkecambah dengan sangat beringas pada pH tanah masam di bawah 6,0 (terutama pada kisaran pH 5,0 hingga 5,5 yang lazim ditemui di lahan andosol pegunungan akibat pencucian hara dan penggunaan pupuk kimia pembentuk asam terus-menerus).
  • Sebaliknya, pada tanah dengan pH netral hingga basa (pH di atas 7,2) yang kaya akan kalsium dan magnesium aktif, spora istirahat akar gada mengalami dormansi total dan kehilangan kemampuan melepaskan zoospora infektif.

3. Tiga Pilar Pengendalian Terpadu Akar Gada di Kebun

Karena tidak ada racun kimia yang mampu mematikan spora istirahat di dalam tanah secara seratus persen, pengendalian bertumpu pada rekayasa lingkungan perakaran:

  • Pengapuran Masif Menggunakan Kapur Pertanian Dolomit: Langkah paling krusial adalah menaikkan pH tanah bedengan hingga mencapai minimal 7,2. Taburkan kapur dolomit [CaMg(CO3)2CaMg(CO_3)_2] atau kapur padam [Ca(OH)2Ca(OH)_2] dengan dosis 2 hingga 4 ton per hektare (sekitar 200 hingga 400 gram per meter persegi bedengan) pada saat olah tanah pertama, minimal 2 hingga 3 minggu sebelum bibit kubis dipindahkan ke lahan. Keberadaan ion kalsium bebas (Ca2+Ca^{2+}) terbukti melumpuhkan daya kecambah zoospora di dalam tanah.
  • Perlakuan Media Semai Sehat (Nursery Treatment): Jangan pernah menanam bibit yang disemai di tanah terbuka yang berisiko tercemar spora akar gada. Gunakan media semai steril di dalam tray semai plastik. Kocorkan larutan fungisida berbahan aktif Flusulfamid atau Siazofamid konsentrasi 1 ml/L ke media semai 3 hari sebelum pindah tanam untuk memberikan kekebalan sistemik awal pada akar bibit kubis.
  • Sanitasi Karantina Alat Pertanian: Spora akar gada berpindah dari petak sakit ke petak sehat melalui lumpur tanah yang menempel di bilah cangkul, sepatu bot petani, atau roda traktor. Selalu cuci bersih seluruh peralatan pertanian menggunakan air sabun dan desinfektan sebelum berpindah mengerjakan lahan bedengan lainnya.

Langkah berikutnya di lahan

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk Agritani

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.