Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Peran Bakteri Pelarut Fosfat BPF Melarutkan Fosfat Terikat Padi

Peran konsorsium bakteri pelarut fosfat (BPF) di sawah padi: sekresi asam organik pelarut ikatan aluminium-besi dan penghematan pupuk fosfat sintetis.

Oleh Arif PrabowoTerbit 4 menit bacapadi
Ilustrasi padi: Peran Bakteri Pelarut Fosfat BPF Melarutkan Fosfat Terikat Padi
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.

Berdasarkan hasil uji laboratorium tanah pertanian di berbagai sentra persawahan intensif di Pulau Jawa dan Sumatera, lebih dari 70 persen lahan sawah padi (Oryza sativa) sesungguhnya memiliki kandungan cadangan total fosfor (PP) yang sangat tinggi akibat penaburan pupuk SP-36 dan TSP secara masif selama puluhan tahun. Namun, ironisnya, tanaman padi di lahan tersebut sering kali tetap menunjukkan gejala defisiensi fosfat: anakan kerdil sedikit, daun tua berwarna hijau gelap keunguan kaku, dan pembungaan lambat.

Kondisi paradoks ini terjadi karena lebih dari 95 persen unsur fosfor di dalam tanah sawah terbelenggu dalam bentuk senyawa mineral kimiawi yang tidak larut air: di tanah sawah masam terikat kuat oleh kation aluminium (Alext−PAl ext{-P}) dan besi (Feext−PFe ext{-P}), sementara di tanah sawah berkapur terikat oleh kalsium (Caext−PCa ext{-P}).

Pemanfaatan pupuk hayati Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)—terutama dari kelompok bakteri rizosfer Pseudomonas putida, Bacillus megaterium, dan Burkholderia cepacia—adalah kunci pembuka gembok mineral alami yang membebaskan cadangan fosfat terkunci menjadi ion ortofosfat bebas yang siap diserap akar padi sawah.

1. Mekanisme Biokimia Pelepasan Fosfat oleh BPF

Bakteri Pelarut Fosfat bekerja melalui kombinasi senjata asam organik dan pelepasan enzim spesifik:

  1. Sekresi Asam Organik Berbobot Molekul Rendah: Koloni BPF di sekitar perakaran padi menyekresikan koktail asam-asam organik alami—terutama asam sitrat, asam oksalat, asam malat, asam glukonat, dan asam suksinat. Asam organik ini menurunkan nilai pH mikro di permukaan partikel tanah liat.
  2. Reaksi Pengkelatan Kation (Chelation): Gugus karboksil dan hidroksil pada asam organik bertindak sebagai ‘pencapit’ pengkelat yang sangat rakus merebut ion kation aluminium (Al3+Al^{3+}) dan besi (Fe3+Fe^{3+}) dari ikatannya dengan fosfat. Ketika ion aluminium dan besi terikat oleh asam sitrat membentuk senyawa kelat stabil, ion fosfat (H2PO4−H_2PO_4^- dan HPO42−HPO_4^{2-}) terbebas lepas ke dalam larutan tanah air sawah.
  3. Pelepasan Enzim Fosfatase Melarutkan Fosfat Organik: Selain melarutkan fosfat mineral anorganik, BPF menghasilkan enzim fosfatase asam dan fosfatase alkalis. Enzim ini memotong ikatan ester pada senyawa fosfat organik sisa serasah tanaman membusuk (fitat), membebaskan molekul fosfat murni.

2. Sinergi BPF di Zona Perakaran Lumpur Sawah

Aktivitas BPF di lingkungan rizosfer padi sawah memberikan manfaat ganda:

  • Memacu Pertumbuhan Anakan Produktif Padi: Ketersediaan ion fosfat bebas di awal fase vegetatif (umur 10-30 HST) memicu pembelahan sel meristem primordia anakan, melipatgandakan jumlah anakan produktif per rumpun dari rata-rata 18 anakan menjadi di atas 25 hingga 30 anakan per rumpun.
  • Mempercepat Kemasakan Gabah Serentak: Fosfat yang melimpah mempercepat translokasi karbohidrat pada fase pengisian butir gabah, mempercepat masa panen hingga 5 sampai 7 hari lebih awal dengan persentase bulir hampa yang sangat rendah.
  • Mereduksi Pemakaian Pupuk SP-36 Kimia: Penggunaan pupuk hayati BPF secara konsisten memungkinkan petani memangkas dosis pupuk fosfat sintetis (SP-36 / NPK) sebesar 30 hingga 50 persen tanpa menurunkan tonase panen gabah per hektare.

3. Cara Aplikasi Pupuk Hayati BPF di Lahan Sawah

Agar konsorsium bakteri pelarut fosfat bertahan hidup dan berkembang biak optimal:

  • Perlakuan Benih Sebelum Semai (Seed Treatment): Larutkan 100 gram pupuk hayati BPF serbuk cair ke dalam 1 liter air hangat suam-suam kuku. Celupkan atau aduk bersama 20 kilogram benih gabah padi yang telah direndam selama 15 menit sebelum ditabur ke bedengan persemaian basah. Sel bakteri akan menempel pada kulit gabah dan membentuk koloni awal di akar kecambah muda.
  • Pencampuran Bersama Kompos Organik Dasar: Campurkan 2 hingga 4 kilogram pupuk hayati BPF serbuk ke dalam 500 kilogram kompos jerami matang atau pupuk kandang matang. Tebarkan secara merata di petak sawah pada saat pengolahan tanah kedua (gelebeg) sebelum bibit ditanam.
  • Jaga kondisi air sawah tetap dalam keadaan macak-macak lembap di minggu pertama setelah tanam untuk mendukung respirasi bakteri aerobik BPF di lapisan lumpur atas.

Langkah berikutnya di lahan

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk untuk padi

Produk lain: AussieBENSU

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.