Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Peran Hormon Sitokinin dan Auksin Pertunasan Bawang Merah

Keseimbangan hormon auksin dan sitokinin pada bibit bawang merah: teknik pemotongan pucuk umbi untuk memecah dominansi apikal dan memacu anakan.

Oleh Arif PrabowoTerbit 3 menit bacabawang merah
Ilustrasi bawang merah: Peran Hormon Sitokinin dan Auksin Pertunasan Bawang Merah
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.

Dalam budidaya bawang merah (Allium cepa var. aggregatum), salah satu tradisi agronomis yang telah diwariskan turun-temurun oleh petani di Brebes dan Nganjuk sebelum menancapkan umbi bibit ke bedengan tanah adalah melakukan pemotongan atau perompesan ujung umbi bibit (roges). Sebagian petani pemula menganggap pemotongan sepertiga ujung umbi bibit hanyalah kebiasaan lama tanpa dasar ilmiah. Padahal, tindakan fisik tersebut merupakan rekayasa fisiologi hormonal yang sangat cerdas untuk memanipulasi rasio keseimbangan dua hormon pertumbuhan utama: Auksin dan Sitokinin.

Tanpa pemotongan ujung bibit, tunas bawang merah akan tumbuh lambat mencicil tidak serempak, dominansi apikal menghambat keluarnya tunas samping, dan jumlah anakan umbi yang dihasilkan per rumpun menjadi sangat sedikit.

1. Pertarungan Hormonal: Dominansi Apikal Auksin vs Pembelahan Sitokinin

Pertunasan umbi bawang merah dikendalikan oleh interaksi antagonis dua hormon endogen:

  1. Hormon Auksin (IAA) dan Dominansi Apikal: Auksin diproduksi dalam konsentrasi tinggi di titik tumbuh pucuk apikal umbi bibit. Aliran auksin yang mengalir turun ke bawah bertindak sebagai zat penghambat (inhibitor) yang menidurkan mata tunas samping lateral di ketiak sisik umbi. Akibatnya, hanya satu tunas utama tengah yang tumbuh memanjang ke atas, sementara calon-calon tunas anakan lainnya terkunci tidur (apical dominance).
  2. Hormon Sitokinin Pemacu Pembelahan Sel Lateral: Sitokinin diproduksi di jaringan meristem dasar piringan umbi dan akar. Sitokinin bertugas merangsang pembelahan sel (sitokinesis) dan memicu pecahnya mata tunas ketiak daun untuk membentuk anakan baru.
  3. Rasio Auksin-Sitokinin Penentu Diferensiasi: Dalam fisiologi tanaman, jika rasio auksin lebih tinggi dibanding sitokinin, tanaman akan terfokus memanjangkan batang tunggal dan akar primer. Sebaliknya, bila rasio sitokinin dinaikkan di atas konsentrasi auksin, tanaman akan memacu percabangan tunas lateral secara masif.

2. Dasar Ilmiah Tindakan Pemotongan Ujung Umbi (Roges)

Memotong pucuk umbi bibit bawang merah memberikan tiga keajaiban agronomis serentak:

  • Menghilangkan Sumber Dominansi Apikal: Memotong pucuk umbi bibit sebanyak sepertiga bagian atas secara mekanis membuang jaringan pucuk yang memproduksi hormon auksin penghambat. Hilangnya dominansi apikal membebaskan seluruh mata tunas samping di dalam keping umbi bawang merah untuk tumbuh keluar secara bersamaan.
  • Memacu Masuknya Oksigen ke Embrio: Luka sayatan pada ujung umbi membuka celah vaskular yang mempercepat difusi gas oksigen (O2O_2) dan penyerapan uap air tanah masuk ke dasar piringan umbi, mengaktifkan enzim amilase pemecah cadangan makanan umbi dalam waktu 24 jam.
  • Hasil Anakan Berlipat Ganda: Umbi bibit yang di-roges mampu menghasilkan 6 hingga 10 anakan tunas produktif per rumpun, jauh melampaui bibit utuh tanpa roges yang rata-rata hanya menghasilkan 2 sampai 4 anakan tunas saja. Semakin banyak anakan produktif yang tumbuh serempak, semakin melimpah tonase panen umbi bawang merah yang didapat petani.

3. Petunjuk Praktis Perlakuan Bibit di Lapangan

Melakukan roges bibit bawang merah dengan aman tanpa risiko pembusukan:

  • Gunakan Pisau Khusus yang Sangat Tajam: Gunakan pisau dapur tipis anti karat yang tajam. Potong secara mendatar tepat pada sepertiga panjang ujung umbi bibit bawang merah. Jangan memotong terlalu dalam melewati setengah badan umbi karena dapat merusak mata lembaga tunas di bagian dasar.
  • Waktu Tanam Segera Pascapotong: Bibit yang baru dipotong ujungnya harus segera ditancapkan ke dalam tanah bedengan basah pada hari yang sama. Jika bibit yang terluka disimpan berhari-hari dalam kondisi lembap di dalam karung, luka sayatan dapat terinfeksi oleh spora jamur layu busuk umbi (Fusarium oxysporum).
  • Perlakuan Agen Hayati Pelindung Luka: Celupkan umbi bibit yang telah dipotong ke dalam suspensi serbuk agens hayati Trichoderma harzianum atau fungisida protektif mankozeb dosis 2 g/L air selama 5 menit sebelum ditanam. Jamur Trichoderma akan menyelimuti permukaan luka sayatan umbi, melindunginya dari serangan patogen tanah sambil menyekresikan hormon pemacu pertumbuhan akar serabut baru.

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk untuk bawang merah

Produk lain: AussieKojien

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.