Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Pestisida Nabati Umbi Gadung: Racun Alami Hama dan Tikus

Cara membuat pestisida nabati dari umbi gadung beracun diosgenin dan sianida: fermentasi ekstrak, dosis semprot ulat grayak, dan umpan racun tikus.

Oleh Arif PrabowoTerbit 3 menit baca
Ilustrasi proteksi tanaman: Pestisida Nabati Umbi Gadung: Racun Alami Hama dan Tikus
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.

Tanaman gadung (Dioscorea hispida) dikenal luas di perdesaan sebagai jenis umbi-umbian hutan yang sangat beracun dan memabukkan jika dikonsumsi manusia tanpa proses pengolahan abu gosok yang tepat. Racun alami yang terkandung di dalam umbi gadung adalah senjata pertahanan kimiawi tumbuhan yang sangat mematikan bagi berbagai jenis hama pertanian, mulai dari ulat pemakan daun, penggerek polong, ulat tanah, hingga hama tikus sawah.

Membuat Pestisida Nabati Berbahan Umbi Gadung memberikan alternatif racun alami berdaya bunuh kuat bagi kelompok tani untuk menekan ketergantungan pada pestisida kimia sintetis yang mahal dan berbahaya bagi kesehatan lingkungan.

1. Senyawa Racun Alami: Alkaloid Dioskorin dan Glikosida Sianogenik

Kekuatan racun umbi gadung bersumber dari kombinasi dua kelompok metabolit sekunder:

  1. Alkaloid Dioskorin (Dioscorine): Senyawa racun saraf yang bekerja sebagai antagonis reseptor asetilkolin. Pada serangga hama, dioskorin melumpuhkan sistem transmisi saraf motorik, memicu kejang-kejang otot hebat, kelumpuhan permanen, dan kematian dalam hitungan jam setelah cairan terserap.
  2. Glikosida Sianogenik (Asam Sianida / HCN): Ketika jaringan umbi gadung diparut atau ditumbuk lumat, enzim intraseluler memecah glikosida melepaskan gas asam sianida bebas. Sianida menghambat enzim sitokrom oksidase di mitokondria sel serangga dan tikus, menghentikan rantai respirasi seluler sehingga sel-sel tubuh hama mati lemas kehabisan oksigen.

2. Resep Pembuatan Ekstrak Semprot Hama Ulat

Membuat cairan bioinsektisida ekstrak gadung untuk penyemprotan tanaman cabai, padi, dan sayuran:

  • Bahan Baku:
    • 1 kilogram umbi gadung segar yang sudah tua (kulit luar berbulu lebat).
    • 50 gram sabun colek atau detergen lembut sebagai bahan perata dan perekat (adjuvant).
    • 5 liter air bersih sumur.
  • Prosedur Pembuatan:
    1. Kenakan sarung tangan karet tebal dan masker pelindung sebelum mengupas kulit umbi gadung. Getah mentah gadung mengandung kristal kalsium oksalat tajam dan lendir beracun yang dapat memicu iritasi kulit parah serta rasa gatal panas berkepanjangan jika mengenai tangan telanjang.
    2. Kupas kulit luar umbi gadung, lalu parut halus atau tumbuk daging umbi menggunakan lumpang batu hingga lumat berair.
    3. Masukkan parutan gadung ke dalam ember plastik, tambahkan 5 liter air bersih, lalu aduk rata menggunakan bilah kayu.
    4. Tutup ember rapat-rapat dan biarkan mengalami proses fermentasi maserasi selama 24 hingga 48 jam di tempat teduh agar seluruh racun dioskorin larut sempurna ke dalam air.
    5. Saring cairan menggunakan kain kasa halus untuk memisahkan ampas serat umbi. Tambahkan sabun perata, lalu aduk hingga berbusa tipis.
  • Dosis Aplikasi Semprot: Encerkan 500 mililiter cairan ekstrak gadung murni ke dalam tangki semprot punggung kapasitas 16 liter (konsentrasi sekitar 3 persen). Semprotkan ke tajuk tanaman pada sore hari saat ulat grayak atau belalang mulai keluar memakan daun. Cuci tangki semprot sampai bersih setelah aplikasi selesai.

3. Pembuatan Umpan Racun Tikus Alami Sawah

Selain disemprotkan pada hama serangga, umbi gadung sangat efektif diracik sebagai umpan pembasmi tikus sawah (rodentisida alami):

  • Campurkan parutan umbi gadung segar dengan dedak padi halus dan serpihan terasi udang bakar atau sisa ikan asin dengan perbandingan berat 2 bagian gadung berbanding 1 bagian pakan pemikat.
  • Bentuk adonan menjadi bulatan-bulatan kecil seukuran kelereng.
  • Taruh butiran umpan di mulut liang aktif sarang tikus atau di jalur jalan tikus di pematang sawah pada sore hari. Tikus sawah yang memakan umpan beraroma terasi ini akan mabuk kejang akibat racun sianida dan mati di dekat sarangnya dalam tempo 12 jam tanpa menimbulkan bau busuk menyengat berlarut-larut.

Langkah berikutnya di lahan

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk Agritani

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.