Pengendalian hama serangga yang bersembunyi di dalam tanah atau di balik tumpukan bahan organik membusuk—seperti larva kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) di kebun sawit dan ulat uret tanah (Phyllophaga spp.) di bedengan palawija—selalu menjadi tantangan berat bagi petani. Menyiramkan insektisida kimia kontak ke dalam tanah sering kali tidak membuahkan hasil karena molekul racun terikat oleh partikel liat tanah atau terurai sebelum menyentuh tubuh hama, sekaligus membunuh cacing tanah yang menyuburkan lahan.
Pemanfaatan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae (dikenal sebagai penyakit jamur hijau atau green muscardine disease) menawarkan solusi bioproteksi alami yang mematikan hama sasaran secara sistemik dan bertahan hidup bertahun-tahun di dalam tanah sebagai musuh alami aktif.
1. Mekanisme Infeksi: Menembus Zirah Kutikula Serangga
Berbeda dengan bakteri atau virus serangga yang harus tertelan masuk ke dalam saluran pencernaan hama, spora jamur Metarhizium bekerja melalui kontak fisik langsung dengan kulit luar serangga:
- Pelekatan Konidia: Spora jamur (konidia) yang menempel pada lapisan kutikula serangga akan berkecambah saat kelembapan tanah mencukupi, membentuk tabung kecambah dan struktur penusuk khusus (apresorium).
- Penetrasi Enzimatis: Jamur mengeluarkan koktail enzim litik (protease, kitinase, dan lipase) yang melarutkan lapisan lilin dan protein keras kitin pelindung tubuh kumbang atau uret. Tabung jamur menembus masuk ke rongga tubuh (hemosel) serangga dalam tempo 24 hingga 48 jam.
- Pelepasan Toksin Destruksin: Di dalam darah serangga, jamur melepaskan racun alami destruxin yang melumpuhkan sistem saraf motorik, merusak organ hati, dan membunuh serangga dalam waktu 3 hingga 5 hari.
- Mumifikasi Hijau: Setelah serangga mati kaku, hifa jamur tumbuh menembus keluar dari bangkai serangga dan menyelimuti seluruh tubuh bangkai dengan lapisan serbuk spora berwarna hijau zaitun gelap, siap menularkan infeksi ke larva lain di sekitarnya (epizootik alami).
2. Formulasi dan Perbanyakan pada Media Jagung Pecah
Petani dan kelompok tani dapat memperbanyak biakan murni Metarhizium anisopliae menggunakan media padat yang murah dan mudah didapat:
- Bahan Media: Gunakan biji jagung pipil pecah atau beras patah yang telah direbus setengah matang, ditiriskan, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas (plastik PP) dan disterilisasi menggunakan panci dandang kukus selama 60 menit.
- Inokulasi Isolat: Setelah media dingin, masukkan starter spora murni Metarhizium ke dalam kantong secara steril di dekat nyala api lilin, lalu simpan kantong di ruangan gelap berventilasi bersih pada suhu 25 hingga 28 derajat Celsius.
- Dalam tempo 10 sampai 14 hari, seluruh butiran jagung akan tertutup rapat oleh miselium tebal berwarna hijau zaitun pekat, menandakan jutaan spora aktif siap diaplikasikan ke lapangan.
3. Teknik Aplikasi di Kebun Sawit dan Bedengan Hortikultura
Aplikasi Metarhizium di lapangan harus disesuaikan dengan habitat persembunyian hama:
- Pada Tumpukan Janjangan Kosong dan Kayu Lapuk Sawit: Taburkan 50 hingga 100 gram butiran jagung ber-spora Metarhizium ke dalam sarang tumpukan sisa janjang sawit atau batang tumbang tempat kumbang tanduk Oryctes bertelur. Larva uret kumbang yang merayap di tumpukan tersebut akan langsung terinfeksi dan mati massal.
- Pada Bedengan Hortikultura: Campurkan 1 kilogram biakan jamur jagung ke dalam 50 kilogram kompos matang. Taburkan campuran ini secara merata ke dalam parit guludan sebelum bedengan ditutup mulsa plastik untuk memusnahkan ulat tanah pemotong batang (Agrotis ipsilon).
- Lakukan aplikasi pada sore hari sehabis hujan agar spora jamur terhindar dari radiasi ultraviolet sinar matahari yang dapat mematikan daya kecambah konidia.



