Bagi petani jagung (Zea mays) di seluruh Indonesia, penyakit Bulai yang disebabkan oleh jamur mikroskopis Oomycota Peronosclerospora maydis (dan P. philippinensis) adalah momok kehancuran nomor satu yang dapat meratakan satu petak kebun jagung menjadi puso seratus persen dalam waktu singkat. Tanaman jagung muda umur 2 hingga 4 minggu yang terinfeksi bulai menunjukkan pemandangan tragis: helai daun yang seharusnya hijau segar mendadak berubah menjadi kuning pucat bergaris-garis putih sejajar tulang daun (klorosis bergaris).
Tanaman yang terserang bulai berhenti bertumbuh menjadi kerdil merana, daun-daunnya menyempit kaku tegak menghadap ke langit, dan tanaman sama sekali tidak mampu membentuk tongkol buah jagung (tongkol mandul / ompong). Sekali tanaman jagung terinfeksi penyakit bulai secara sistemik, tidak ada obat atau fungisida apa pun di dunia yang dapat menyembuhkannya.
1. Dinamika Infeksi Sistemik dan Penyebaran Spora Malam Hari
Patogen bulai memiliki siklus infeksi sistemik yang menyatu dengan jaringan titik tumbuh tanaman:
- Penetrasi Melalui Stomata Daun Muda: Spora jamur (konidia) mendarat di helai daun tanaman jagung muda berumur di bawah 20 hari setelah tanam. Di bawah lapisan embun malam, spora berkecambah menembus lubang stomata, lalu hifa jamur menjalar masuk ke dalam sel meristem titik tumbuh apikal.
- Infeksi Sistemik Menyeluruh: Karena jamur menetap di titik tumbuh, setiap helai daun baru yang diproduksi tanaman secara otomatis telah disusupi oleh miselium jamur. Akibatnya, seluruh daun baru yang keluar langsung berwarna putih pucat atau kuning lemon tanpa klorofil fungsional.
- Pelepasan Spora Embun Dini Hari: Pada malam hari yang dingin dan lembap (kelembapan relatif di atas 90% pada pukul 01.00 hingga 04.00 dini hari), jamur bulai mengeluarkan konidiofor menembus stomata di permukaan bawah daun. Di bawah daun tampak lapisan serbuk putih halus menyerupai tepung terigu. Menjelang subuh, jutaan spora ini terlepas tertiup angin sepoi-sepoi dan terbang menginfeksi tanaman jagung muda sehat di petak-petak sekitarnya.
2. Kunci Pertahanan Nomor Satu: Perlakuan Benih (Seed Treatment)
Karena tanaman yang sudah terinfeksi bulai tidak dapat disembuhkan, benteng pertahanan paling mutlak harus dibangun sebelum benih dimasukkan ke dalam tanah:
- Penggunaan Fungisida Sistemik Berbahan Aktif Metalaksil: Metalaksil (metalaxyl) atau Mefenoksam adalah fungisida sistemik spesifik kelas Oomycota yang mampu diserap oleh embrio benih dan dialirkan ke seluruh jaringan kecambah muda selama 25 hari pertama pertumbuhan.
- Prosedur Pelapisan Benih (Slurry Treatment):
- Siapkan 1 kilogram benih jagung hibrida berkualitas.
- Larutkan 5 gram fungisida serbuk metalaksil 35% (seperti Saromyl atau Ridomil) ke dalam 10 hingga 15 mililiter air bersih di dalam wadah plastik kecil hingga membentuk cairan pasta kental berwarna merah jambu cerah.
- Masukkan benih jagung ke dalam kantong plastik atau ember, tuangkan pasta fungisida, lalu kocok dan aduk hingga seluruh permukaan cangkang benih jagung terselimuti lapisan warna merah jambu secara merata.
- Angin-anginkan benih selama 15 menit di tempat teduh hingga kering sebelum ditanam ke lubang tugal tanah. Lapisan metalaksil ini membunuh spora bulai yang mencoba menginfeksi kecambah saat keluar dari tanah.
3. Tindakan Karantina Lapangan: Eradikasi Total Tanaman Bulai
Bila di hamparan kebun jagung masih ditemukan satu atau dua tanaman yang lolos terinfeksi bulai:
- Wajib Cabut dan Musnahkan Tanaman Sakit (Rouging): Jangan biarkan tanaman jagung yang berdaun kuning bergaris putih tetap hidup di kebun. Segera cabut tanaman bulai tersebut hingga ke perakarannya pada pagi hari sebelum lapisan tepung spora tertiup angin.
- Masukkan tanaman sakit ke dalam karung goni di tempat, bawa keluar dari areal kebun, lalu bakar atau kubur ke dalam tanah sedalam 50 sentimeter. Tanaman bulai tidak akan pernah menghasilkan tongkol berharga, sehingga mempertahankannya di kebun sama saja dengan memelihara pabrik spora penular yang akan memusnahkan tanaman jagung tetangga.
- Selalu tanam varietas jagung hibrida yang memiliki sifat ketahanan genetik tinggi terhadap penyakit bulai nasional seperti varietas Pioneer P35, NK 212, atau Bisi 18.



