Sejak kemunculan perdananya di Indonesia pada awal tahun 2019, ulat grayak jagung invasif asal benua Amerika, yaitu Fall Armyworm (FAW / Spodoptera frugiperda), telah mengubah peta perlindungan tanaman jagung (Zea mays) secara drastis. Berbeda dengan ulat grayak lokal (Spodoptera litura) yang umumnya hanya memakan helai daun luar di malam hari, ulat FAW memiliki naluri destruktif yang jauh lebih ganas: larva ulat langsung mengebor masuk dan bersembunyi menetap di bagian terdalam titik tumbuh corong daun muda (whorl) tanaman jagung.
Ulat FAW memakan habis jaringan meristem titik tumbuh, meninggalkan helai daun yang robek bolong compang-camping menyerupai bekas tembakan peluru, dan menimbun lubang corong daun dengan kotoran basah berbutir kasar yang menyerupai serbuk gergaji kayu basah (sawdust-like frass). Bila titik tumbuh mati (dead heart), tanaman jagung tidak mampu membentuk malai bunga jantan dan tongkol, memicu gagal panen total pada umur vegetatif muda.
1. Karakteristik Morfologi Penentu Identifikasi Ulat FAW
Petani harus mampu membedakan ulat FAW dari ulat jagung biasa agar dosis penanganan tidak meleset:
- Tanda Huruf Y Terbalik di Kepala: Kepala larva ulat FAW instar akhir berwarna cokelat gelap atau hitam dengan pola garis sutura berwarna kuning terang yang membentuk huruf Y terbalik yang sangat jelas di dahinya.
- Empat Titik Persegi di Ujung Ekor: Pada segmen perut nomor 8 (segmen kedua dari ujung ekor), terdapat empat buah bintik hitam menonjol yang tersusun membentuk formasi bujur sangkar / persegi empat sempurna. Bintik-bintik pada segmen tubuh lainnya tersusun acak berbentuk trapesium.
- Perilaku Kanibalisme di Dalam Corong: Ulat FAW bersifat sangat teritorial dan kanibalistik. Meskipun ngengat betina meletakkan kelompok telur berjumlah 100 hingga 200 butir pada satu tanaman, hanya 1 hingga 2 ekor larva terkuat yang akan bertahan hidup di dalam satu corong daun jagung setelah saling memangsa satu sama lain.
2. Titik Kritis Pengendalian dan Waktu Monitoring Lapangan
Penanganan ulat FAW paling efektif dilakukan sebelum ulat sempat bersembunyi di balik timbunan kotorannya:
- Fase Paling Rentan Tanaman (Umur 10 hingga 35 HST): Monitoring kebun harus dimulai sejak tanaman jagung berumur 7 hingga 10 hari setelah tanam. Ulat FAW yang menyerang tanaman di bawah umur 30 hari memiliki daya rusak paling dahsyat karena merusak primordia titik tumbuh.
- Ambang Batas Pengendalian: Lakukan tindakan penyemprotan jika ditemukan lebih dari 20 persen tanaman jagung muda dalam satu petak menunjukkan gejala daun berlubang segar atau terlihat gumpalan kotoran serbuk gergaji di corong pucuknya.
3. Teknik Penyemprotan Tepat Sasaran dan Rotasi Insektisida
Menyemprot daun jagung dari atas menggunakan spuyer semprot kabut datar tidak akan mematikan ulat FAW yang bersembunyi di bawah sumbatan kotoran corong:
- Arahkan Nozzle Langsung ke Dalam Corong Daun: Lepaskan spuyer kabut halus dan gunakan spuyer lubang tunggal bertekanan sedang. Arahkan ujung stik sprayer tepat tegak lurus menembak masuk ke dalam corong pucuk daun jagung dari jarak dekat agar larutan insektisida mengalir membanjiri sarang persembunyian ulat.
- Rotasi Bahan Aktif Kimia Selektif:
- Aplikasi Pertama: Gunakan insektisida golongan diamida seperti Klorantraniliprol atau Sianantraniliprol dengan dosis 0,5 ml per liter air. Bahan aktif sistemik ini diserap oleh daun pucuk dan meracuni otot larva saat memakan jaringan daun.
- Aplikasi Kedua (Rotasi IRAC): Bila seminggu kemudian masih ditemukan ulat hidup, ganti bahan aktif dengan golongan avermektin seperti Emamektin Benzoat dosis 0,5 g/L air atau golongan spinosin seperti Spinetoram. Rotasi bahan aktif mencegah terjadinya kekebalan silang serangga.
- Aplikasi Agens Hayati Ramah Lingkungan: Di lahan jagung organik, semprotkan bioinsektisida virus Spodoptera frugiperda Multiple Nucleopolyhedrovirus (SfMNPV) atau bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) pada sore hari pukul 16.30 saat ulat mulai aktif bergerak di mulut corong daun.



