Lewati ke konten utama
AgritaniPortal Pertanian

Pengendalian Penyakit CVPD Citrus Vein Phloem Degeneration Jeruk

Bahaya penyakit mematikan CVPD pada kebun jeruk: gejala daun belang kuning asimetris, buah asam mengeras, dan pengendalian terpadu vektor Diaphorina citri.

Oleh Arif PrabowoTerbit 4 menit bacajeruk
Ilustrasi jeruk: Pengendalian Penyakit CVPD Citrus Vein Phloem Degeneration Jeruk
Foto ilustrasi, bukan dokumentasi kasus di artikel ini.

Bagi petani kebun jeruk (Citrus spp.) di Indonesia, penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)—yang di kancah internasional dikenal sebagai Huanglongbing (HLB) atau Citrus Greening—adalah bencana fitopatologi paling mematikan dalam sejarah perkebunan jeruk nusantara. Pada era 1980-an hingga 1990-an, penyakit ini pernah menyapu bersih jutaan pohon jeruk produktif di sentra Garut, Batu Malang, dan Pontianak hingga punah tak tersisa. Pohon jeruk yang terinfeksi bakteri CVPD mengalami kehancuran sistem transportasi makanan secara permanen: helai daun menguning kaku tegak meranggas, buah yang dihasilkan berukuran kerdil asimetris dengan rasa asam pahit mengeras, dan pohon mati perlahan dalam kurun waktu 1 hingga 2 tahun.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri obligat intraseluler tanpa dinding sel, yaitu Candidatus Liberibacter asiaticus, yang hidup menetap dan merusak jaringan tabung tapis pembuluh floem tanaman jeruk.

1. Diagnosis Lapangan: Membedakan Gejala CVPD dengan Defisiensi Seng

Banyak petani kerap salah menduga gejala CVPD sebagai kelaparan unsur hara biasa:

  1. Gejala Belang Kuning Asimetris (Blotchy Mottle): Ciri paling sahih dari infeksi bakteri CVPD pada daun jeruk adalah timbulnya bercak warna kuning belang-belang yang polanya tidak simetris antara belahan daun kiri dan belahan daun kanan tulang utama. Sebaliknya, bila tanaman hanya kekurangan unsur seng (Zn) atau besi (Fe), pola klorosis selalu simetris sempurna di kedua sisi tulang daun.
  2. Karakter Daun Kaku Menghadap Langit: Daun yang terinfeksi CVPD menjadi tebal, kaku, dan helai daunnya melengkung ke atas menghadap ke langit (upright position), dengan tulang daun yang menebal dan tampak seperti pecah gabus kecokelatan.
  3. Cacat Buah (Fruit Inversion): Buah jeruk pada pohon yang sakit tidak matang merata dari bawah ke atas, melainkan bagian pangkal buah tetap berwarna hijau gelap sementara bagian ujungnya berwarna oranye kusam. Biji di dalam buah mengalami abortus menjadi hitam keriput mati, dan nira buah terasa asam getir.

2. Vektor Penular Utama: Kutu Loncat Jeruk Diaphorina citri

Bakteri CVPD tidak dapat menyebar melalui angin atau cipratan air hujan, melainkan membutuhkan serangga pembawa khusus:

  • Karakter Kutu Loncat (Diaphorina citri): Serangga kecil berukuran 2 sampai 3 milimeter berwarna cokelat kelabu. Ciri khas serangga dewasa saat hinggap mengisap cairan di pucuk daun muda adalah posisi tubuhnya yang menungging miring membentuk sudut 45 derajat.
  • Penularan Efisien Seumur Hidup: Nimfa kutu loncat yang mengisap getah pohon jeruk yang sakit akan tertulari bakteri Liberibacter. Bakteri memperbanyak diri di dalam kelenjar liur serangga, dan begitu serangga bermetamorfosis menjadi kutu bersayap dewasa, serangga tersebut mampu menularkan bakteri CVPD ke pohon-pohon jeruk sehat lainnya seumur hidupnya saat berpindah mencari tunas daun muda (flush).

3. Tiga Pilar Strategi Pengendalian Terpadu CVPD

Karena belum ada bahan kimia bakterisida yang mampu membersihkan bakteri Liberibacter dari seluruh pembuluh floem pohon jeruk dewasa, strategi penanganan berfokus pada pencegahan mutlak:

  • Gunakan Bibit Bebas Penyakit Bersertifikat (BPMT): Selalu tanam bibit jeruk hasil okulasi mata tempel bebas virus yang diproduksi di bawah rumah kaca kasa anti serangga bersertifikat resmi Balitjestro (Kementan). Jangan pernah membeli bibit asalan pinggir jalan yang berpotensi membawa bakteri CVPD ke areal kebun baru.
  • Eradikasi Serentak Pohon Tertular: Pohon jeruk di kebun yang sudah terkonfirmasi positif menunjukkan gejala belang kuning asimetris harus segera ditebang rata tanah, lalu oleskan herbisida sistemik pada tonggak tunggulnya atau bongkar perakarannya untuk dibakar. Membiarkan pohon sakit tetap hidup sama saja dengan memelihara sumber infeksi mematikan bagi kebun tetangga.
  • Pengendalian Vektor Kutu Loncat Secara Terjadwal: Pantau keluarnya tunas-tunas daun muda (flush) di kebun jeruk. Segera semprotkan insektisida sistemik berbahan aktif Imidakloprid, Tiametoksam, atau Dimetoat dengan dosis 1 ml per liter air tepat saat kuncup flush daun baru mulai merekah sepanjang 1 sentimeter. Ini memastikan kutu loncat mati sebelum sempat menusukkan stiletnya ke jaringan pembuluh tanaman.

Langkah berikutnya di lahan

Rujukan ilmiah untuk artikel ini sedang dilengkapi.

Tentang penulis

Arif Prabowo · Konsultan Pertanian Senior

Lebih dari 8 tahun di bidang pertanian dan riset; kini sales dan konsultan produk Agritani.

WhatsApp Agritani (membuka tab baru)Lihat profil

Produk untuk jeruk

Produk lain: KojienBENSUSaratoga

Ikuti selalu dosis pada label kemasan.